Senin, 14 Maret 2011

SUKU KOROWAI KEAJAIBAN IRIAN JAYA



Jauh di pedalaman rimba Irian Jaya, di dataran rendah teluk sungai Brazza di kaki pegunungan Jaya Wijaya, hidup suku Korowai dan Kombai. Nyamuk, binatang buas dan ancaman perang antar suku menyebabkan mereka membangun rumah mereka di atas pohon. Bahkan sebagian dari mereka tinggal di rumah di atas pohon setinggi 40 m. Semakin tinggi rumah pohonnya, semakin besar ketakutan mereka.


Populasi suku Korowai sekarang tidak lebih dari 3.000 jiwa. Suku Korowai dan Kombai tinggal di wilayah Indonesia dan sudah pasti mereka juga penduduk Indonesia. Namun sangat jarang ditemukan literatur mengenai mereka dalam bahasa Indonesia. Justru banyak peneliti asing yang mengunjungi mereka dan mempelajari kehidupan suku mereka yang unik.


Sampai sekarang Suku korowai masih dalam kondisi primitif, belum kenal baca tulis dan peradaban modern. Dari segi pariwisata, cara hidup suku korowai ini sangat unik dan indah. kehidupan ini dapat menarik minat wisatawan untuk mengunjungi tanah papua.



Korowai adalah salah satu suku di Irian yang tidak memakai koteka. Kaum lelaki suku ini memasuk-paksa-kan penis mereka ke dalam kantong jakar (scrotum) dan pada ujungnya mereka balut ketat dengan sejenis daun.



Sementara kaum perempuan hanya memakai rok pendek terbuat dari daun sagu. Sagu adalah makanan utama mereka.







Sedangkan pria Suku Kombai menggunakan ‘koteka’ dari paruh burung besar. Senjata mereka adalah panah yang matanya terbuat dari tulang.






Sungguh menakjubkan,,,
Mereka hidup sangat bersahaja di dunianya
Entah mereka mengenal tidak siapa presiden mereka
Apa yang dilakukan wakilnya di DPR dengan sejuta tak-tik???
Siapa pula Gayus Tambunan dengan kekayaannya???
Mungkin sebaiknya, mereka tidak perlu tahu
Di sini waktu seperti terhenti



OPINI:
Pertama kali mengenal suku ini sekitar tahun 2007 dari CD dokumenter yang saya beli. Saat itu rasanya tidak percaya, di jaman sekarang masih bisa di temukan hal ini, saudara senegara lagi. Melihat kemampuan mereka bertahan hidup; mencari makan dan mendirikan rumah yang begitu hebat sungguh menakjubkan skaligus mengharukan.

Mereka tidak mengenal baca tulis, tidak bergaul dengan lingkungan luar, tapi bisa membuat rumah pohon yang begitu hebat. Kemampuan mereka ini mengingatkan saya dengan kemampuan lebah membuat rumah yang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan,

“Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu)"
(An-Nahl: 68)

Suku Korowai dan Suku Kombai adalah salah satu Kuasa Allah swt.
Subhanallah.....!!!!
Allahuakbar.....!!!!





sumber :

Sabtu, 12 Maret 2011

KUDA YANG BAHAGIA


Seekor anjing tampak menatapi tingkah seekor kuda yang berlari-lari tak jauh dari hadapannya. Sang kuda begitu ceria. Sesekali, kuda menggoyangkan kepalanya seperti sedang berdendang riang. Anjing pun mengubah wajah cemberutnya dengan bersuara ke arah kuda.


“Kamu begitu bahagia, kuda?” tanya sang anjing menampakkan wajah penasaran. Padahal, di masa kering seperti ini, sebagian besar penghuni padang rumput terjebak kehidupan yang begitu sulit.


“Ya, aku bahagia!” ucap kuda sambil terus berlari kecil seraya tetap mengungkapkan keceriaannya.


“Kamu tidak merasa susah di masa kering seperti ini?” tanya anjing dengan wajah masih muram.


“Tidak!” jawab kuda singkat. Gerakan larinya makin melambat. Dan, sang kuda pun menghentikan langkahnya di depan sang anjing.


“Apa kamu sudah kaya, temanku?” tanya si anjing serius. Yang ditanya tidak memberikan reaksi istimewa. Kuda cuma menjawab pelan, “Tidak!”


“Mungkin kamu sudah punya rumah baru seperti kura-kura, keong, atau yang lainnya?” tanya anjing tetap menunjukkan rasa penasaran. Kuda hanya menggeleng.


“Mungkin kamu sudah bisa menghasilkan mutiara seperti para kerang di laut?” tanya sang anjing lagi. Lagi-lagi, kuda menggeleng. “Lalu? Kenapa kamu begitu bahagia?” sergah anjing lebih serius.


“Entahlah,” jawab kuda sambil tetap menunjukkan wajah cerianya. “Aku bahagia bukan karena punya apa-apa. Aku bahagia karena bisa memberi apa yang kupunya: tenaga, kecerdasan, bahkan keceriaan,” jelas kuda begitu panjang.


“Itukah yang membuatmu bahagia dibanding aku?” tanya anjing mulai menemukan jawaban menarik.


“Aku merasa bahagia dan kaya karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Dan bukan, apa yang bisa kudapatkan,” tambah si kuda yang mulai beranjak untuk kembali berlari.

~~~


Sahabatku... Manis pahit kehidupan kadang bergantung pada bagaimana kita memandang. Dari situlah sikap diri akan menemukan cermin. Kalau hidup dipandang dengan wajah muram, maka cermin akan memantulkan sikap susah, suram, dan tidak mengenakkan.


Cobalah letakkan mata hati kita di tempat yang nyaman untuk memandang hidup ini secara positif. Maka, kita akan menemukan energi baru tentang bagaimana mengarungi hidup.


Dari situlah, sikap yang muncul persis seperti diungkapkan sang kuda, “Aku merasa bahagia karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Bukan, apa yang bisa kudapatkan.”


Terimakasih telah membaca.... Salam Motivasi...!





(Author : muhammadnuh@eramuslim.com)

Sumber:  Facebook "Cerita-cerita Motivasi"

Selasa, 08 Maret 2011

CERMIN DIRI


Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya.
Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh.

"Aduh!" jeritannya memecahkan keheningan suasana pegunungan.
Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, "Aduh!".


Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei, siapa kau?"
jawaban yang terdengar, "Hei, siapa kau?"
Lantaran kesal suaranya selalu diritukan, sang anak berseru, "Pengecut kamu!"
Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.


Si anak bertanya kepada sang ayah, "Apa yang terjadi?"
Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, "Anakku, coba perhatikan."

Lelaki itu berkata keras, "Saya kagum padamu!"
Suara dikejauhan menjawab, "Saya kagum padamu!"

Sekali lagi sang ayah berteriak "Kamu sang juara!"
Suara itu menjawab, "Kamu sang juara!"


Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti.
Lalu sang ayah menjelaskan, "Suara itu adalah gema, tapi sesungguhnya itulah kehidupan."


HIKMAH:
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu
Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita
Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini,
maka ciptakan cinta di dalam hatimu.

Bila kamu menginginkan kebahagiaan dalam hidup,
maka mendekatlah kepada sumber kebahagiaan itu.
Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya
Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah cermin dari dirimu



Sumber:
Buku "BERTAHAN HIDUP" karya Hendi Kurniah.
gambar GOOGLE

Senin, 07 Maret 2011

ELANG DAN KALKUN


Konon di satu saat yang telah lama berlalu. Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman baik. Dimanapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas.

Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, "Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!".

Elang membalas, "Kedengarannya ide yang bagus".

Jadi kedua burung melayang turun ke bumi, melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat seekor sapi.

Sapi ini tengah sibuk makan jagung, namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, "Selamat datang, silahkan cicipi jagung manis ini".



Ajakan itu membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan dengan mudahnya.

Elang bertanya, "Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu untuk kami?".

Sapi menjawab, "Oh, kami punya banyak makanan di sini. Tuan Petani memberikan untuk kami apapun yang kami inginkan".




Dengan undangan itu Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani.

Sapi menjawab, "Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan".

Kalkun tambah bingung "Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?".

Sapi menjawab, "Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal".

Elang dan Kalkun menjadi syok berat. Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Sedangkan mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.



Ketika datang waktu untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini.

Kalkun berkata kepada Elang. "Mungkin kita harus tinggal di sini. Kita bisa mendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dan gudang di sana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernah kita bangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untuk dapat hidup".



Elang juga goyah dengan pengalaman ini, "Saya tidak tahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Saya menemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa imbalan. Disamping itu, saya lebih suka terbang tinggi dan bebas mengarungi langit luas, dan bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah telalu buruk. Pada kenyataannya, saya menemukan hal itu sebagai tantangan yang menarik".



Akhirnya Kalkun memikirkan semuanya dan memutuskan untuk menetap dimana ada makanan gratis dan juga naungan.

Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya bagitu saja. Ia menikmati tantangan rutin yang membuatnya hidup.

Jadi setelah mengucapkan selamat berpisah untuk teman lamanya Si Kalkun, Elang menetapkan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana ke depannya.



Semua berjalan baik bagi Si Kalkun. Dia makan semua yang ia inginkan. Dia tidak pernah bekerja. Dia tumbuh menjadi burung yang gemuk dan malas.

Namun, suatu hari dia mendengar istri Tuan Petani menyebutkan bahwa Hari Raya akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, Si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk minggat dari pertanian itu dan bergabung kembali dengan teman baiknya, Si Elang.



Namun ketika dia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh terlalu gemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di Hari Raya, keluarga Tuan Petani duduk bersama menghadapi panggang daging Kalkun besar yang sedap.

Hikmah:
Ketika kita menyerah pada tantangan hidup dalam pencarian keamanan, kita mungkin sedang menyerahkan kemerdekaan kita.
Dan kita akan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada kesempatan lagi...........

Sabtu, 19 Februari 2011

PERSAHABATAN BURUNG DAN ULAR


Ibnu Jauzi menceritakan, ada seorang lelaki pernah melihat seekor burung yang terbang dari dahan pohon yang satu dan hinggap di dahan pohon yang lain sambil membawa potongan daging di paruhnya. Ia membawa daging itu ke atas sebatang pohon kurma.

Lelaki itu heran karena biasanya burung tidak bersarang di pohon kurma. Lelaki itu pun segera memanjat pohon tersebut  hingga akhirnya berhasil mendekati puncaknya. Dilihatnya seekor ular besar yang sangat tua dan buta melingkar di sana.

Ternyata ketika burung itu telah berada di dekat si ular tersebut,  ia segera memberikan isyarat kepadanya. Seketika itu pula, si ular membuka mulutnya dan kemudian burung tersebut melemparkan potongan daging yang dibawa.

Begitulah, seekor ular yang buta menyambut rezekinya di puncak sebatang pohon kurma melalui seekor burung.


"Tidak satupun binatang melata yang ada di muka bumi ini, kecuali Allah akan menjamin rezekinya, dan Allah Maha Mengetahui tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Kesemua itu telah tertera di dalam catatan perjalanan takdir yang sangat jelas" (Hud : 6)