Selasa, 09 Oktober 2018

Terlambat Menikah, Tetaplah Bersyukur.


Ketapang, Kalimantan Barat, Kota Kayong julukannya. Tempat dimana aku dilahirkan. Hari Jumat penuh berkah pukul 06.00 pagi, pertama kali ku hirup udara bumi. Sehari setelah peringatan ”Sumpah Pemuda” yaitu 29 Oktober 1976. Lusi Andriani nama yang diberikan oleh orang tuaku, Ruhbanong dan Kurniati. Sebuah nama yang tidak mengandung arti. Kata umak (ibu), dulu ada acara “Lusy Show” di televisi, itu saja sejarahnya.

Bapak berasal dari Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Sopeng, merantau ke Ketapang bertemulah dengan umak yang merupakan suku melayu asli Ketapang.  Bugis dan melayu bertemu lahirlah kami lima bersaudara dan aku anak ketiga. Bapak bekerja di pelayaran mengurus surat keberangkatan kapal. Umak seorang guru SD (PNS). Kondisi ini memberikan kami ekonomi yang cukup, tidak kaya tapi juga tidak kesulitan. Alhamdhulillah.

Waktu kecil, aku terbilang tomboy. Pakaian anak laki-laki adalah pakaian keseharianku. Menurut cerita umak, jika abangku pulang sekolah maka aku akan mengenakan pakaiannya. Mungkin karena itu, aku dibelikan pakaian sama seperti yang dibelikan untuk adek laki-lakiku. Baru setelah masuk SD, aku mengenal pakaian wanita berupa rok.



Ketomboyan ini mungkin yang membuatku tidak pernah mengenal pacaran di masa SMP, SMA dan Perguruan Tinggi (PT). Laki-laki takut samaku, hem..!. Tapi justru sekarang aku bersyukur akan hal itu, sehingga memberiku pengalaman bahwa hidup akan baik-baik saja tanpa pacaran. Wow...!

Orang bilang aku terlambat menikah, sebab diusia 36 tahun baru menemukan jodoh. Bukan bearti tidak ada yang mau sih!. Hanya saja setiap ada laki-laki yang mendekat, hatiku menolaknya, aku merasa tidak enjoy. Otakku sudah berusaha membujuk hati dengan memberikan penalaran yang logis masuk akal. Penjelasan-penjelasan seperti umur sudah waktunya untuk menikah, laki-lakinya baik dan sholeh, pekerjaannya juga bagus, tidak ada alasan untuk menolak. Tapi sayang antara hati dan otak tidak sejalan. Akhirnya aku memilih untuk jujur pada hatiku lalu berkata : “kita berteman saja”.

Sekali lagi, jika dibilang aku terlambat menikah. Rasanya bukan pernyataan yang tepat, karena menikah bukan soal cepat dan lambat melainkan ketentuan Allah yang sudah digariskan-Nya. Tinggal masalahnya bagaimana kita mengisi waktu luang tersebut sampai jodoh datang mempertemukan kita dengan pasangan. Ini yang ingin aku bagikan kepada mereka yang belum menemukan jodohnya.  

Rejeki, jodoh dan maut, aku yakin ada dalam genggaman-Nya. Lalu, kenapa harus gelisah, gundah gulana alias galau. Ku isi kesendirian ini dengan banyak membaca buku motivasi, dan memperluas pergaulan. Bayangkan saja diusia 21 tahun, tepatnya pada tanggal 1 maret 1997  aku diangkat sebagai guru SD (PNS). Jika aku menikah diusia 36 tahun bearti sekitar 15 tahun aku menanti jodoh datang menghampiri. Umak sudah cemas, apa lagi kakakku yang perempuan waktu itu belum juga menikah. Tetapi setelah dia menikah, kecemasan umak berkurang mungkin karena beliau berpikir aku bisa menjaga diri. Sayangnya, saat aku menikah ditahun 2012, umakku sudah meninggal enam tahun sebelumnya. Semoga Allah merahmatinya, Aamiin!

Kembali cerita pada masa penantian. Bersyukur kepada Allah selama masa itu, aku bisa menguasai ilmu komputer dari program word, exel dan  powerpiont yang sangat berguna menunjang karierku sebagai guru sehingga sekarang bisa menjadi kepala sekolah. Kemudian menjadi kepala sekolah berprestsi tingkat kabupaten Ketapang tahun 2018. Akupun punya sedikit ilmu ngeblog, coba saja mampir di blogku lusiandriani.blogspot.com yang ku buat pada tahun 2010, dua tahun sebelum pernikahanku.

Bersyukur, selama masa penantian aku memperluas pergaulan dengan mengikuti pengajian sehingga bertemu dengan teman-teman yang sholehah. Persahabatan yang sangat indah jauh dari iri, dengki dan pertikaian karena tujuannya adalah ibadah kepada Allah.

Terlebih yang aku syukuri, bersama teman-teman, aku bisa mendirikan Yayasan Peduli Pendidikan Al-Falah (P2AF) yang memberikan bantuan kepada anak yatim dan kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan dari tingkat SMP sampai Perguruan Tingggi . Alhamdulillah sudah empat anak yang menyelesaikan Pendidikan di PT, dan saat ini satu orang baru memulai kuliah di Universitas Tanjung Pura, Pontianak.

Setelah menikah, terasa sulit mencari waktu untuk bertemu laptop, menulis di blog dan bertemu teman-teman. Apalagi menjalankan yayasan. Seandainya aku menikah lebih cepat mungkin hal-hal indah di atas tidak akan pernah ku rasakan.

So.. buat yang jomblo dan menanti jodoh.
Syukurilah..!
Allah punya rencana, dan Ia akan memberikan yang terbaik selagi kita bisa memperbaiki diri.
Selalu bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya.


Ketapang, 9 Oktober 2018
(tugas pertama Kelas Menulis Online)

Sabtu, 23 Desember 2017

Download Penilaian Pengetahuan dan Keterampilan pada Kurikulum 2013 Kelas I Semester 2



Penilaian Pengetahuan dan Keterampilan pada Kurikulum 2013 dikenal dengan istilah penilaian KI-3 dan KI-4. Kedua  penilaian ini dapat dilakukan secara terpisah maupun terpadu. Pada saat penilaian keterampilan (KI-4) dilakukan, secara langsung penilaian pengetahuan (KI-3) pun dapat dilakukan.

Melakukan penilaian pengetahuan (KI-3) dan keterampilan (KI-4) harus mengacu pada pemetaan kompetensi dasar yang berasal dari KI-3 dan KI-4 pada period tertentu yaitu semester ganjil dan genap.

Tahapan penilaian pengetahuan dan keterampilan dimulai dari :

       1.      Perencanaan:
·         Pembuatan Prota dan Prosem
·         Pemetaan KD dari KI-3 dan KI-4
·         Penetapan KKM
·         Perencanaan Bentuk dan Teknik Penilaian.
       2.      Pelaksanaan:
·         Tes Tertulis : Kisi-kisi (PH, PTS, PAS), Soal, Pelaksanaan Penilaian.
·         Kinerja (Unjuk Kerja & Produk) : Instrumen Penilaian Kinerja
·         Proyek : Instrumen Penilaian Proyek
        3.       Pengolahan :
·         Analisis Penilaian : Remidial / Pengayaan
·         Rekap Nilai Akhir
·         Penulisan Rapor.

Saat ini liburan semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018. Alangkah baiknya, jika bapak/ibu guru meluangkan waktu untuk masuk pada tahap perencanaan. Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Prosem) pada Kurikulum 2013 tidak jauh beda dengan kurikulum 2006, bahkan lebih sederhana. Begitu juga dengan format penetapan KKM lebih mudah dan praktis dibanding kurikulum sebelumnya.

Jika tahap perencanaan telah dikerjakan. Maka untuk lebih memudahkan guru dalam melakukan penilaian KI-3 dan KI-4, sebaiknya guru juga menyiapkan format rekap nilai akhir. Apalagi jika guru tersebut masih belum bisa menggunakan aplikasi rapor, sehingga perlu dibantu oleh pihak lain, seperti operator, TU bahkan kepala sekolah. Format rekap nilai akhir disesuaikan dengan format dalam aplikasi rapor yang digunakan oleh sekolah.

Banyak guru mengeluh tentang pelaksanaan penilaian pada kurikulum 2013. Kita buat sederhana saja, mungkin karena guru belum terbiasa dengan tekhnik penilaian yang diminta. Sebagai guru, kita harus optimis bahwa penilaian KI-1, KI-2, KI-3 dan KI-4 sudah sesuai dengan ranah pendidikan yang dicetuskan oleh Benjamin S. Bloom dengan Taksonomi Bloom, yaitu; afektif, kognitif dan psikomotorik. Serta pesan dari Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dengan cipta, rasa dan karsa.

Adapun cara mudah melakukan penilaian pengetahuan dan keterampilan pada kurikulum 2013  adalah:
  • Buat perangkat penilaiannya, yaitu Prota, Prosem, Pemetaan KD, Penetapan KKM dan perencanaan bentuk dan teknik penilaian.
  • Siapkan daftar nilai yang sesuai dengan aplikasi rapor. Walaupun rapor K-13 dicetak menggunakan aplikasi, namun guru juga harus memiliki daftar nilai secara manual apalagi bagi guru yang belum bisa menggunakan komputer.
  • Lakukan penilaian harian secara tertulis sesuai jadwal yang ditetapkan pada Prosem. Penilaian harian tertulis direncanakan berdasarkan pemetaan KD yang dilaksanakan minimal satu kali dalam satu tema unntuk setiap KD muatan pembelajaran.
  • Lakukan rekap nilai secara periodik,  maksudnya jika sudah selesai dengan satu tema maka segera mengambil penilaian KI-3 dan KI-4 dan masukkan nilai pada format yang telah dibuat, serta masukkan juga pada aplikasi rapor. Jika meminta bantuan pihat lain maka guru harus memberikan nilai tersebut untuk dimasukkan dalam aplikasi.

Dibawah ini adalah perangkat penilaian pada kelas I semester genap yang bisa di download. Perangkat ini dibuat berdasarkan contoh pada Panduan Penilaian untuk SD edisi revisi Desember 2016. Semoga bisa membantu rekan-rekan guru kelas I dalam menyiapkan perangkat penilaiannya.


Demikian sedikit yang bisa dibagikan. Jika terdapat kesalahan mohon diberi masukan akan agar bisa diperbaiki. Terima kasih.